Rabu, 09 April 2014

Pemilu Di Kabupaten Kulon Progo

Sekitar 2.966 personel akan diterjunkan untuk pengamanan tahapan Pemilu 2014 di Kulonprogo. Personel pengamanan ini terdiri dari Kepolisian, TNI, Pol PP, serta Linmas. Kanit Intelkam Polres Kulonprogo, AKP Joko Sumarah mengatakan, pengamanan tahapan Pemilu selain oleh kepolisian juga melibatkan TNI, Pol PP, dan Linmas dengan total sekitar 2.966 personel. Terdiri dari Polres 662 personel, Brimob 100 personel, TNI AD 100 personel, TNI AU 30 personel, Pol PP 100 personel, dan Linmas 1.974 personel.
"Pengamanan bertujuan untuk menjamin rasa aman para penyelenggra dan peserta Pemilu, sehingga masyarakat dapat hadir ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya dengan tenang dan terbebas dari rasa takut akan ancaman dalam bentuk apapun," katanya dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Kesiapan Pemilu 2014 di Gedung Kaca Pemkab, Rabu (5/2).

Target operasi, lanjut Joko, adalah terselenggaranya seluruh tahapan Pemilu 2014 dengan tertib, aman, dan lancer, serta terwujudnya situasi dan kondisi yang kondusif dan terkendali. Sasaran lokasi pengamanan antara lain di tempat penyimpangan logistik pemilu, tempat pemungutan suara, serta tempat dan gedung yang digunakan untuk pengambilan sumpah anggota legislatif terpilih.
"Mekanisme penindakan dimulai dengan mengumpulkan keterangan, melaksanakan pencegahan, penangkalan, dan patroli, hingga upaya paksa terkait pelaksanaan kampanye supaya terwujud penegakan hukum," imbuhnya.
Kapolres Kulonprogo, AKBP Johanes Setiawan Widjanarko mengatakan, untuk kesiapan pelaksanaan pengamanan juga akan dilaksanakan gelar pasukan seluruh personil yang terlibat. Gelar pasukan ini akan dilakukan Jumat (7/2) rencananya di Alun-alun Wates.
Dandim Kulonprogo, Letkol Inf Semuel Jefferson Aling menyatakan, pihaknya siap membantu pengamanan tahapan Pemilu. Menurutnya, Pemilu merupakan keselamatan dan masa depan masyarakat Indonesia sehingga harus terlaksana dengan aman dan tertib. Pihaknya juga menekankan netralitas dari anggotanya dalam pelaksanaan Pemilu.
Sementara itu Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengajak semua pihak untuk menciptakan suasana kondusif dalam tahapan Pemilu. Dalam menciptakan suasana kondusif tersebut perlu dicegah praktik-praktik politik uang. Karena menurutnya, dalam pelaksanaan Pemilu yang akan dominan di lapangan adalah pragmatisme. "Ini menjadi tugas-tugas persuasif kita kepada masyarakat," katanya.

Sumber : Suara merdeka.



TNI AD Komit Junjung Tinggi Netralitas TNI Pada Pemilu 2014

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Budiman menyampaikan komitmennya bahwa TNI AD tetap akan menjunjung tinggi sikap netralitas TNI pada pelaksanaan pemilu legislatif maupun pemilihan presiden yang akan dilaksanakan pada bulan April dan Juli 2014 mendatang. Komitmen tersebut disampaikan Kasad pada acara silaturahmi dengan Perwira Tinggi (Pati) Purnawirawan TNI AD bertempat di gedung A.H Nasutian, Mabesad, Jakarta, Kamis (20/2).

Komitmen tersebut seiring dengan tujuan dari kegiatan silaturahmi tersebut yaitu untuk memberikan penjelasan komitmen netralitas TNI dalam pelaksanaan Pemilu 2014 tentang kebijakan TNI AD dalam membangun kekuatan pertahanan negara serta memperkokoh kebersamaan dan kekeluargaan yang harmonis antara purnawirawan TNI AD dengan prajurit TNI AD yang masih aktif.

Lebih jauh Kasad menyampaikan dengan adanya silaturahmi ini akan terwujud kesamaan cara pandang TNI AD dalam menghadapi Pemilu 2014 dengan menjunjung tinggi Netralitas Pemilu dan terwujudnya kesamaan sikap dalam menjaga keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Selain itu juga, pada kesempatan tersebut, Kasad menjelaskan tentang materi konsep strategi transformasi TNI Angkatan Darat, agar tercipta kesepahaman  dengan para pati purnawirawan bahwa TNI Angkatan Darat ke depan akan semakin profesional, modern, efektif, efisien dan militan, serta mencintai dan dicintai rakyat, sehingga  mampu menjawab tuntutan perkembangan jaman.

Acara silaturahmi ini diikuti oleh 150 orang perwira tinggi Purnawirawan TNI AD, antara lain Jenderal (Pur) Tri Sutrisno, Jenderal (Pur) Wiranto, Jenderal (Pur) Edriartono Sutarto, Jenderal (Pur) Hendro Priyono, Jenderal (Pur) Ryamizard Ryacudu, Jenderal (Pur) Luhut B. Pandjaitan dan Jenderal (Pur) Pramono Edhie Wibowo, sedangkan dari pejabat teras TNI AD yang hadir Kasad, Wakasad,para Asisten Kasad Dan/ Gub/ Dir/ Ka Badan Pelaksana Pusat, Pangkotama TNI AD. (Dispenad)

Kasad : PNS TNI AD Harus Mendukung Netralitas TNI

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman menegaskan bahwa PNS TNI AD harus ikut mendukung kebijakan Netralitas TNI. Sikap mendukung Netralitas TNI penting dilakukan sebab PNS TNI AD merupakan bagian dari organisasi TNI AD yang selama ini dikenal netral oleh rakyat. Sehingga, perilaku yang tidak netral dari PNS TNI AD akan ikut mempengaruhi citra Netralitas TNI secara keseluruhan.
Demikian disampaikan Kasad selaku Penasehat Korpri TNI AD dalam acara Forum Komunikasi Pimpinan TNI AD dengan Pengurus dan Anggota Korpri TNI AD se- Garnisun I Jakarta dan Garnisun II Bandung yang dihadiri sekitar 600 orang PNS TNI AD di Aula Jenderal Besar A.H. Nasution Mabesad, Jakarta, Selasa (8/4).
Penyelenggaraan acara Forum Komunikasi Pimpinan TNI AD dengan Pengurus dan Anggota Korpri TNI AD sangat tepat untuk dilakukan saat ini mengingat pada tahun 2014 ini terdapat 2 (dua) agenda nasional yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden yang merupakan asas untuk menumbuhkan kepercayaan rakyat terhadap Institusi TNI / TNI AD khususnya tentang Netralitas TNI dan tidak adanya kegiatan politik praktis oleh TNI AD. Dari hal tersebut maka TNI AD perlu memberikan penjelasan kepada para PNS TNI AD tentang komitmen netralitas TNI AD dan harus mendukung netralitas tersebut.
Lebih jauh, Kasad menegaskan untuk mewujudkan suksesnya pemilu tahun 2014 ini,  seluruh PNS wajib memilih (tidak boleh Golput). Kasad juga berharap para PNS TNI AD untuk bersikap cerdas dalam memilih dengan memilih yang terbaik, serta tidak terpengaruh pada politik praktis, seperti terlibat dalam politik uang, atau berupaya mempengaruhi orang lain untuk memilih calon atau partai tertentu. “Seluruh PNS wajib untuk menggunakan haknya dan memilih harus cerdas sesuai dengan pilihannya masing-masing”, ungkap Kasad.
Dalam kesempatan itu, Kasad juga membahas beberapa hal terkait dengan pembinaan PNS TNI AD. Diantaranya mengenai profesionalitas PNS TNI AD. “PNS TNI AD harus profesional. Dua hal yang menjadi faktor penentu apakah seseorang itu profesional atau tidak, yaitu expertise dan responsibility,” jelas Kasad.
Peran PNS TNI AD yaitu menjadi orang yang menguasai di bidangnya masing-masing dalam jangka waktu yang cukup panjang. Hal ini dimungkinkan karena rotasi jabatan bagi anggota militer sifatnya jangka pendek. Oleh karena itu, PNS TNI AD seharusnya menjadi orang yang terpandai atau paling berkompetensi di kantor tempatnya bekerja. Hal inilah yang disebut dengan expertise atau keahlian. Sementara responsibility atau tanggung jawab dimaknai sebagai kemauan untuk bertanggung jawab sesuai dengan pangkat dan jabatan. “Jangan maunya jabatan semakin tinggi, tapi tidak mau tanggung jawabnya bertambah,” tegas Kasad. Ditambahkan Kasad bahwa keuntungan menjadi PNS dimana setiap 4 tahun sekali secara otomatis naik pangkat, harus dibarengi juga dengan naiknya keahlian dan rasa tanggung jawab.
Diakhir pengarahan, Kasad menyampaikan agar PNS juga senantiasa menjaga jiwa korsa diantara sesama PNS TNI AD. Namun Kasad mengingatkan pula bahwa jiwa korsa yang dipelihara haruslah jiwa korsa dalam pengertian yang positif. “Misalnya ada teman yang salah, ya.. diingatkan. Jika tidak bisa diingatkan, ya.. laporkan,” demikian dicontohkan Kasad.

Netralitas TNI Dalam Menghadapi Pemilu Tahun 2014


PENDAHULUAN
Satu-satunya milik nasional yang tetap tidak berubah adalah TNI, demikian ucapan Panglima Besar Jenderal  Besar Soedirman salah satu sosok putra terbaik bangsa, yang selama hayatnya tak pernah ingkar terhadap perjuangan membela dan mempertahankan kemerdekaan.  Mengingat ucapan ini, menggugah TNI untuk selalu tampil berkiprah dalam mempertahankan 3 faktor  penting yang menjadi fundamental untuk menjamin kelangsungan hidup atau eksistensi bangsa atau Negara, yakni  Kedaulatan Negara yang harus tetap tegak, keutuhan wilayah NKRI yang harus tetap terjaga serta keselamatan bangsa dan segenap tumpah darah Indonesia yang harus tetap terjamin.  Sehingga konsep untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas kelangsungan hidup bangsa Indonesia harus dirancang dengan jalan  memanfaatkan dan mengembangkan segala potensi serta kekuatan nasional secara total.

Sebagai wujud nyata dalam mengemban amanah tersebut, TNI telah memberikan konstribusi positif dan ikut serta dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberhasilan TNI mendukung dan mengawal agenda demokrasi nasional, khususnya dalam puncak prosesi Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat  Indonesia.
Keberhasilan ini tentunya sangat dipengaruhi oleh kesadaran Prajurit TNI dalam mengamankan prosesi agenda tersebut secara sungguh-sungguh dan juga telah membuktikan dirinya untuk selalu bersikap netral dalam kehidupan politik praktis.  Ruang lingkup tulisan ini dibatasi :

Pendahuluan
Petuah  Panglima Besar Jenderal Soedirman
Netralitas TNI
Hal-hal yang perlu mendapat perhatian
Pedoman TNI
Penutup 


PETUAH PANGLIMA BESAR JENDERAL SOEDIRMAN.

Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya, sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh.

Tunduk kepada pimpinan atasannya dengan ikhlas mengerjakan kewajibannya, tunduk kepada perintah pimpinannya itulah yang merupakan kekuatan dari suatu tentara.

Bahwa Negara Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja, maka perlu sekali mengadakan kerja sama yang seerat-eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar tentara.
Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga.

(Diucapkan dihadapan Konferensi TKR dan merupakan amanat pertama kali sejak menjabat Pangsar TKR)

Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan prajurit yang mudah dibelokan haluannya, kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa, dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara.

Dalam memandang ke depan hendaknya kita insyaf  bahwa masih banyak kita hadapi gelombang-gelombang kesulitan, maka keluar dan kedalam hendaknya kita tempuh dengan tekad pengalaman selama empat tahun ini dengan tidak ragu-ragu menghadapi tugas kewajiban itu.  Saya percaya, dapat kamu semua mengatasi kesulitan-kesulitan.

(Amanat kepada seluruh anggota APRI melalui Order Harian Pangsar APRI)

NETRALITAS TNI DALAM PEMILU.

Usaha-usaha untuk mengembalikan jati diri TNI bukanlah sesuatu yang mudah dilaksanakan terlebih di tengah tarik menarik kehidupan politik yang belum sepenuhnya stabil. Hambatan internal dari tubuh TNI sendiri berpadu dengan tantangan eksternal dari lingkungan makro, merupakan isu yang harus ditangani dengan penuh kehati-hatian dan kejernihan dengan tetap menempatkan determinasi ke arah tujuan yang utama. Betapapun besar tantangan dan godaan yang menghadang proses penataan kembali itu, TNI harus senantiasa melihat ke depan, berjuang keras membangun kembali kredibilitas, integritas demi mengembalikan jati dirinya sebagai pengawal keutuhan Negara dan Bangsa. Sebagai pedoman Pimpinan TNI telah merumuskan Paradigma Baru TNI yang substansinya merupakan tekad TNI untuk meninggalkan fungsi sosial politik (Dwi Fungsi) dan berkonsentrasi pada fungsi pertahanan, dengan demikian maka seluruh jajaran TNI baik institusi, satuan maupun perorangan tidak lagi melakukan kegiatan politik atau menjadi partisan salah satu Parpol bagi kepentingan kelompok politik tertentu. Tarikan-tarikan berbagai kelompok untuk membawa TNI kembali ke gelanggang politik praktis haruslah disikapi dengan kearifan dan konsistensi ucapan dan tindakan, antara lain:

a.         Keterlibatan TNI Dalam Proses Penyelenggaraan Negara.   Salah satu isu pokok disekitar reposisi peran TNI adalah mengenai keterlibatan TNI dalam proses penyelenggaraan negara. Melalui ketetapan MPR Nomor: VII/MPR/2000, peran TNI dalam penyelenggaraan negara dirumuskan bahwa :
1)       Kebijakan politik negara merupakan dasar kebijakan dan pelaksanaan tugas TNI.
2)      TNI bersikap netral dalam kehidupan politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politik       praktis.
3)      TNI mendukung tegaknya demokrasi menjunjung tinggi hukum dan HAM.
4)      Anggota TNI tidak menggunakan hak memilih dan dipilih.
b.       Peran, Fungsi dan Tugas Pokok TNI berdasarkan UU RI No. 34 Tahun 2004 tentang TNI.
1)       Peran TNI.   TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara.
2)       Fungsi TNI.
a)       TNI sebagai alat pertahanan negara berfungsi sebagai :
(1)      Penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa.
(2)       Penindak terhadap setiap bentuk ancaman baik yang dari dalam maupun luar negeri.
(3)       Pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan keamanan.
b)        Dalam melaksanakan fungsinya sebagai alat pertahanan, TNI merupakan komponen utama sistem pertahanan negara.
3)       Tugas Pokok TNI.
a)       Tugas Pokok TNI menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.
b)        Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut di atas, dilakukan   dengan :
(1)       Operasi Militer untuk Perang (OMP).
(2)       Operasi Militer Selain Perang (OMSP, yaitu untuk :
 -         Mengatasi gerakan separatisme bersenjata;
 -         Mengatasi pemberontakan bersenjata;
 -         Mengatasi aksi terorisme;
 -         Mengamankan wilayah perbatasan;
 -         Mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis;
 -         Melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri;
 -         Mengamankan Presiden dan wakil presiden beserta keluarganya;
 -         Memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnyasecara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta;
-           Membantu tugas pemerintahan di daerah;
-           Membantu kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam undang-undang;
-           Membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia;
-           Membantu menaggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan  pemberian bantuan kemanusiaan;
-           Membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search and rescue); serta
-           Membantu pemerintah dalam pengamanan pelayaran dan penerbangan  terhadap pembajakan, perompakan, dan penyelundupan.
c)         Ketentuan sebagaimana dimaksud pada pelaksanaan OMP dan OMSP dilaksanakan berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara.

HAL-HAL YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN DALAM NETRALITAS TNI PADA PEMILU.

Untuk melaksanakan sikap netral TNI pada Pemilu maka, setiap prajurit TNI harus benar-benar mampu menampilkan sikap tindakan maupun pernyataan secara tepat sehingga tidak menimbulkan penafsiran negatif dari masyarakat terutama dari Parpol peserta Pemilu terhadap konsitensi netralitas TNI itu sendiri. Dikaitkan dengan kepedulian yang tinggi dari prajurit TNI terhadap perkembangan situasi dan kondisi lingkungannya maka tidak tertutup kemungkinan munculnya sikap, tindakan dan/atau pernyataan-pernyataan dari prajurit TNI baik selaku perorangan maupun atas nama institusi yang mungkin dapat ditafsirkan bertentangan dengan komitmen netralitas TNI. Untuk itu perlu disampaikan beberapa hal yang memerlukan perhatian setiap prajurit TNI :

a.         Setiap prajurit TNI baik selaku perorangan maupun atas nama institusi tidak memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada peserta Pemilu baik Parpol atau perseorangan (calon anggota DPD maupun calon Presiden dan Wakil Presiden) untuk kepentingan kegiatan apapun dalam Pemilu. Terhadap pejabat negara yang berkampanye (Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Gubenur dan sebagainya) diperlakukan sama dengan anggota/juru kampanye peserta Pemilu lainnya dan dihindarkan dari semua fasilitas jabatan formalnya.
b.         Tidak melakukan tindakan dan/atau pernyataan apapun yang bersifat mempengaruhi keputusan KPU/KPUD dan/atau Panwaslu/Panwasda.
c.         Tidak memberikan komentar, penilaian dan mendiskusikan apapun terhadap identitas maupun kualitas salah satu Parpol atau perseorangan peserta Pemilu.
d.         Membatasi diri untuk tidak berada baik secara fisik perorangan maupun fasilitas dinas di arena tempat penyelenggaraan kampanye peserta Pemilu.
e.         Menghindari penggunaan warna mencolok yang mengarah kepada atribut Parpol/perseorangan peserta Pemilu pada fasilitas dinas/perorangan TNI.
f.          Tidak menyimpan/menempel dokumen, atribut maupun benda-benda lain yang menggambarkan atribut parpol dengan alasan apapun.
g.         Tidak berada di area TPS pada saat pelaksanaan pemungutan suara dengan alasan apapun.
h.         Setiap prajurit TNI wajib memahami pengetahuan tentang Pemilu baik dalam Undang-Undang Pemilu maupun keputusan/ketentuan KPU.
i.          Menghormati dan menerima secara wajar apabila ada kunjungan anggota maupun pengurus Parpol/perseorangan peserta Pemilu sepanjang yang bersangkutan tidak membawa identitas politiknya dan tidak berkaitan dengan kepentingan politik.
j.          Mengadakan koordinasi sebaik-baiknya dengan pihak yang berwenang agar tidak ada pemasangan atribut Parpol/perseorangan peserta Pemilu dilingkungan markas, asrama, dan fasilitas-fasilitas TNI lainnya.
k.         Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada keluarga, PNS TNI dan lingkungannya untuk menggunakan hak pilihnya pada saat pemungutan suara.
l.          Dalam melaksanakan tugas perlu lebih mewaspadai daerah yang berpotensi rawan konflik (politik, ekonomi, dan sara).
m.        Setiap Pimpinan/Komandan/Atasan berkewajiban untuk memberikan pemahaman tentang Netralitas TNI kepada anggota/bawahannya dan bertanggung jawab atas pelaksanaannya di lapangan.
n.         Apabila terjadi bentrokan fisik antar massa atau perorangan pendukung Parpol di markas, kesatrian, asrama, komplek satuan TNI atau di daerah sekitarnya (pada radius kurang dari 100 M) dan tidak ada aparat Polri, Hansip/Linmas yang menangani, prajurit TNI secara kelompok atau satuan wajib menghentikan/melerai, selanjutnya menyerahkan permasalahannya kepada aparat Polri terdekat, dengan tetap menjaga netralitas TNI.
o.         Setiap prajurit baik perorangan maupun institusi wajib untuk selalu mewaspadai setiap perkembangan situasi di lingkungannya serta melaksanakan temu cepat dan lapor cepat secara hierarkhis apabila ada kejadian atau kegiatan yang berindikasi mengarah kepada menghambat, mengganggu atau menggagalkan Pemilu.
p.         Menyesuaikan sebaik-baiknya setiap dinamika di lapangan dan selanjutnya wajib melaporkan kejadiannya secara hierarkis pada kesempatan pertama.

PEDOMAN BAGI ANGGOTA TNI JIKA TIDAK MENGGUNAKAN HAK MEMILIH DALAM PEMILU LEGISLATIF, PEMILU PRESIDEN DAN PILKADA.

Apabila keputusan politik menetapkan tidak memberikan hak pilih bagi anggota TNI dalam Pemilu, maka beberapa hal yang harus dipedomani oleh anggota TNI adalah sebagai berikut :

1.         Anggota TNI tidak boleh menjadi anggota KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota.
2.         Anggota TNI tidak boleh menjadi anggota Panwaslu, Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/Kota dan Panwaslu Kecamatan.
3.         Anggota TNI tidak boleh menjadi anggota PPK, PPS dan KPPS.
4.         Anggota TNI tidak boleh menjadi panitia pendaftaran pemilih.
5.         Anggota TNI tidak boleh ikut campur dalam menentukan dan menetapkan peserta Pemilu.
6.         Anggota TNI tidak boleh ikut campur dalam menentukan dan menetapkan peserta Pemilu perorangan (Dewan Perwakilan Daerah).
7.         Anggota TNI tidak boleh sebagai peserta dan juru kampanye.
8.         Anggota TNI tidak boleh menjadi tim sukses Kandidat.
9.         Anggota TNI tidak boleh memobilisasi semua organisasi sosial, keagamaan dan ekonomi untuk kepentingan Partai Politik dan Kandidat tertentu. 
RUJUKAN ATURAN HUKUM.
1.         Undang-Undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD.
2.         Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.
3.         Undang-Undang No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden/Wakil Presiden.
4.         Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 
PENUTUP.
Demikian sumbangsih yang dapat saya berikan pada Bangsa dan Negara, saya yakin tulisan ini masih jauh dari sempurna, dengan besar hati, saya menerima masukan yang bersifat kritis dan konstruktif.

ARTIKEL ini dikutip dari
Bapak Mayjen TNI Dr. S. Widjonarko, S.Sos., M.M., M.Sc.
(Aster Panglima TNI).





Selasa, 08 April 2014

Kegiatan Aksi Gerakan Nasional Indonesia Bersih ( GNIB )

Kegiatan Aksi Gerakan Nasional Indonesia Bersih (GNIB) ini didasari dalam menghadapi permasalahan lingkungan hidup di Indonesia yang akhir-akhir ini semakin menurun baik dari segi kuantitas maupun kwalitas, maka hal ini harus segera disikapi dengan arif dan bijaksana melalui pengelolaan sumber daya manusia ,alam & lingkungan hidup yang dilaksanakan secara berkelanjutan, Dari tahun ke tahun pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan kualitasnya untuk itu perlu segera didorong untuk menindak lanjuti dengan cara membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal, mendaur ulang sampah, membuang limbah dan sampah di tempat yang telah ditentukan serta kegiatan lainnya yang berhubung dengan kelestarian dan kebersihan lingkungan.

Oleh karena itu Kodim 0731/Klp merasa ikut terpanggil dan bertanggung-jawab dalam mewujudkan Aksi Gerakan Nasional Indonesia Bersih (GNIB) yang mulai dilaksanakan pada hari Jum'at Tanggal 14 Maret 2014 bertempat dilingkungan Kantor Makodim 0731/Kulonprogo tepatnya di alun-alun wates dan sekitarnya merupakan bentuk kerja nyata Kegiatan Aksi Gerakan Nasional Indonesia Bersih (GNIB) yang salah satu bentuk kegiatannya adalah melaksanakan Jum'at bersih secara bergotong royong membersihkan alun-alun wates yang diikuti TNI dan PNS Kodim : 30 orang , Aparatur Pemda : 5 orang , Masyarakat dan anak-anak sekolah Smp & Sma sederajat : 45 orang , dimulai pukul 7.30 Wib sampai dengan selesai, kegiatan ini dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat di wilayah Kulonprogo,

Hasil yang dicapai dilihat dari segi fisik adalah terjaganya kebersihan dilingkungan kantor maupun fasilitas lainnya sehingga akan terlihat indah dan bersih, dari segi non fisik meningkatnya kesehatan anggota kodim, aparatur pemerintah serta masyarakat dan meningkatnya Kemanunggalan TNI-Rakyat yang merupakan pondasi baik ketahanan masyarakat maupun Ketahanan Negara Indonesia.

Sabtu, 25 Februari 2012

Kunjungan Pangdam IV/Diponegoro ke Markas Dim 0731/Klp


Pada tanggal 09 Januari 2012 Hari Senin sekitar Jam 09.00 Wib Markas Kodim 0731/Kulonprogo menerima Kunjungan Kerja rombongan Bapak Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Ir.Mulhim Asrof, beserta Ibu, Beliau didampingi Kasi Ops, Kasiter dan Kasi Intel Rem072/Pmk Yogyakarta.

Di Markas Kodim 0731/Klp Bapak Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Ir.Mulhim Asrof disambut dan diterima langsung oleh Komandan Kodim 0731/Klp Mayor Inf  Tommy Siagian,Kepala Staf ,Pasi-Pasi dan Anggota Kodim 0731/Klp didampingi Bapak Bupati Kulonprogo beserta jajarannya,Ka Polres Kulonprogo, Dan Satradar Congot diruang tamu  Makodim 0731/Klp.

Dalam Kunjungan Kerjanya Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Ir. Mulhim Asrof memberikan arahan yang garis besarnya beliau mengatakan kepada Anggota Kodim 0731/Klp sebagai berikut :
1. Prajurit dan Pegawai Sipil TNI harus menghindari dan mencegah pelanggaran disiplin baik di satuan, masyarakat dan dijalan raya terutama berlalu lintas agar dapat diminimalisir kerugiaan personil maupun materiil.
2. Prajurit dan Pegawai Sipil TNI harus menjaga keluarganya agar terjadi keharmonisan dan kerukunan dalam berumah tangga.
3. Didalam bekerja dan bertugas Prajurit dan Pegawai Sipil TNI harus didasari dengan hati yang ikhlas.
4. Hilangkan imit bahwa setiap pemuda dan pemudi Indonesia bila menjadi TNI dan PNS memakai uang.
5. Prajurit TNI khususnya Kodim Teritorial dalam melaksanakan  dan menangani bencana alam di daerah langsung ke lokasi bencana tanpa harus menunggu administrasi, sedangkan administrasi bisa diurus belakangan, agar bencana alam cepat ditangani diharapkan dapat menghindari korban bencana alam lebih banyak.
Dalam akhir kunjungan kerjanya di Makodim  0731/Klp Beliau Bapak Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Ir.Mulhim Asrof berpesan kepada seluruh Prajurit dan Pns TNI didalam melaksanakan tugas di Teritorial harus mengedepankan niat ikhlas untuk ibadah bekerja karena alloh swt sehingga akan timbul semangat kerja yang apik dan tidak melenceng dari aturan agama dan Pemerintah terutama UUD 1945 dan Pancasila.

Selasa, 21 Februari 2012

Kesepakatan MoU yang bersifat Kontinjensi


Hari Selasa tanggal 21 Februari 2012, siang hari di Gedung Kaca Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, telah terjadi sepakatan penanda tanganan Nota Kesepahaman ( MoU : Memorandum of Understanding ) tentang penanganan masalah kontijensi (Permasalahan yang sifatnya Insidentil / mendadak) antara Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dengan Kodim dan Polres Kulonprogo, Pemerintah Kabupaten Kulonprogo langsung Beliau Bapak Bupati dr. H Hasto Wardoyo SpOG (K), Kodim 0731/Klp Beliau Bapak Letkol Inf Tommy Siagian, dan Kapolres beliau Bapak AKBP K Yani Sudarto SIK MSi, hadir dalam penanadatangan Kepala Desa/Kelurahan, Camat, Perwakilan Sekda, Staf Bupati dan perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah.

Dalam Sambutannya Dandim 0731/Klp Beliau Bapak Letkol Inf Tommy Siagaian mengatakan yang disimpulkan oleh Admin Kodim bahwa perlu diketahui MoU/Nota kesepahaman memiliki makna suatu kesepakatan bersama antara berbagai pihak dalam menangani dan menanggulangi berbagai permasalahan secara terpadu dan sinergis yang bersifat kontinjensi, sehingga permasalahan tersebut tidak meluas dan dapat diantisipasi seawal mungkin oleh berbagai pihak dengan tugas pokok,fungsi dan peran masing-masing. Tujuan MoU tersebut mengacu pada Nota kesepahaman sebelumnya yaitu memantapkan dan meningkatkan jalinan kesatuan persepsi, keterpaduan, sinkronisasi dan harmonisasi dalam menangani berbagai permasalahan yang bersifat  kontinjensi yang terjadi dengan penuh rasa tanggung jawab bagi terwujudnya situasi yang kondusif dan stabilitas diwilayah kabupaten kulonprogo.

Perlu diketahui upaya Kodim 0731/Klp dalam turut berpartisipasi membantu mengatasi berbagai permasalahan diwilayah kulonprogo diaplikasikan dalam bentuk kegiatan pembinaan teritorial yang merupakan tugas pokok dan sebagai fungsi utama TNI-AD yaitu merupakan usaha, pekerjaaan dan kegiatan utama TNI-AD dalam menyelenggarakan perencanaan, pengembangan, pengerahan dan pengendalian potensi wilayah pertahanan dengan segenap aspeknya dalam rangka mewujudkan ruang,alat dan kondisi juang yang tangguh serta Kemanunggalan TNI-Rakyat.

Sementara Bapak Bupati Hasto Wardoyo mengatakan dilaksanakan Nota Kesepahaman (MoU) ini tujuannya sebagai pedoman untuk mewujudkan sinergitas dalam pelaksanaan pejabat daerah agar sedini mungkin dapat menanggulangi dan menangani masalah kontijensi yang terjadi diwilayah kabupaten kulonprogo,Dinamika perkembangan lingkungan secara global dan nasional disamping telah memberikan adanya perubahan kearah yang positif juga telah berimplikasi terhadap timbulnya berbagai masalah yang mempengaruhi stabilitas dan kondusifitas wilayah kabupaten kulonprogo.

Senin, 20 Februari 2012

Kegiatan donor darah

Kodim 0731/Klp melaksanakan kegiatan donor darah dalam rangka HUT ke 62 Kodam IV/Diponegoro bertempat di Kantor PMI Kabupaten Kulonprogo Hari Rabu tanggal 15 Februari 2012,kegiatan ini dilaksanakan selesai dalam 1 hari dan diikuti oleh anggota TNI, Polri dan Pns, dari peserta yang terdaftar untuk anggota TNI Kodim 0731/Klp sebanyak : 40 orang, Polri : 6 Orang, Pns sebanyak : 7 orang, namun setelah di tensi ternyata yang dapat diambil 
darahnya : untuk Gol darah "O" = 8 orang, gol darah "B" : 12 Orang, gol darah "AB" : 1 orang. 
Kegiatan donor darah ini telah rutin dilaksanakan oleh Anggota Kodim 0731/Klp dalam tiap bulannya, kebetulan bulan ini bersamaan dengan HUT TNI ke 62 Kodam IV/Diponegoro.
Namun tidak kalah penting kegiatan yang berkaitan dengan Hari Jadi Kabupaten Kulonprogo yang ke 60, Dalam rangka Hari Jadi tersebut Pemda mengadakan Tableg Akbar yang dilaksanakan sekitar bulan Nopember 2011,kegiatan itu dilaksanakan untuk meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Alloh Swt, tujuan Tableg Akbar agar Pns dilingkungan Pemda Kulonprogo lebih giat lagi dalam beribadah sehingga akan terhindar dari perbuatan yang tidak terpuji, serta tercipta kerukunan antar umat beragama, saling bertoleransi, sehingga masyarakat kulonprogo akan semakin tentram dan damai, ini dinukil dari penceramah beliau Bapak Habib Syech Zainal.Tableg akbar dihadiri langsung Bapak Bupati,Wakil Bupati,Kasdim 0731/Klp,Kapolres serta tokoh2 agama dan masyarakat, dihadiri +/- 5.000 orang. selesai dilaksanakan sekitar jam 11.00 malam.